Yak-“Zone”

iMe…pourquoi?

“Tidak Perlu Terburu-buru, Namun Cepat!”…

“Gak usah kesusu, ning cepet”, atau tranlasinya dalam bahasa Indonesia adalah: “Tidak perlu terburu-buru, namun cepat.”
Kata-kata itu adalah sebuah nasehat dari seorang senior saya, pada sebuah perkumpulan rutin mingguan sekitar tahun 2004. Disaat itu saya sedang butuh masukan dan jalan keluar atas sebuah masalah.
Waktu itu saya bingung dengan literasi kata-katanya. Berulangkali saya coba bertanya apa artinya, dan berulang kali saya mendapat jawaban yang sama,
“Yang penting lihat ke dalam diri saja dulu, nanti pasti tahu artinya.” Sudah? Tampaknya begitu.Titik. Namun masih koma bagi saya, atau bahkan masih titik-titik kosong yang perlu diisi jawaban.
Saya coba membedah kata demi kata, ‘Gak usah kesusu’ — ‘Tidak perlu terburu-buru’, tentu bersikap tenang, tidak gradak-gruduk, seruduk sana seruduk sini, gegabah, tidak sabaran, emosional …, lalu ‘Ning cepet’ — ‘Namun cepat’. Nah ini dia, kontradiksi, kenapa di kalimat pembuka ‘tidak perlu terburu’, tapi di akhir kalimat ada kata ‘asal cepat’. Apa berarti kita tidak boleh tergesa memutuskan suatu tindakan atas suatu masalah, tapi tetap bertindak cepat. Bukankah kadang kecepatan sangat relatif, tergantung pengamat dan posisi masalahnya (Begitu kan Relatifitas Einstein…). Tapi sepertinya fokusnya bukan di kecepatan, tapi apa?…

Begitu saja, akhirnya saya lakoni ‘syarat’ yang dikatakan beliau dan melatih hati untuk selalu mengambil hikmah dari peristiwa itu, dan untuk melihat kedalam diri sendiri. Intropeksi, mendekati Sang Pencipta lebih dekat lagi,melihat kaca benggala hati dan akhirnya saya mulai menangkap makna apa yang dimaksudkan.Dan masalah saya saat itu terselesaikan lebih cepat dari yang saya perkirakan. Yah, akhirnya mengerti juga apa maksud nasehat itu,
“Gak usah kesusu, ning cepet.”
“Tidak perlu terburu-buru, namun cepat.”

Dimensinya terasa lebih luas dari sekedar kata dan susunan huruf atau frase, karena ternyata didalamnya ada Ketenangan, Kesabaran, Kepasrahan sekaligus Kehendak, dan Usaha.
Ternyata memang ada masalah yang memang dapat kita tangani sendiri atau dibantu orang lain disekitar kita. Dan juga ada masalah yang harus kita selesaikan sendiri agar selesai.
Nyatanya ada juga masalah yang jika kita coba selesaikan dengan kemampuan pribadi atau orang lain, justru akan menimbulkan masalah baru, dan ajaibnya justru masalah itu akan selesai jika kita pasrahkan pada Sang Pencipta Segala Sesuatu, Allah SWT. Masalah itu selesai dengan cara yang tidak terduga dan terpikirkan oleh kita.
Jadi, apapun masalahnya, jodoh, rejeki, jabatan, anak, pekerjaan, proyek, bisnis, keluarga dll, muaranya tetap sama, “Gak usah kesusu, ning cepet!”…
Pernahkah anda mengalaminya? ato mungkin sekarang sedang mengalaminya? …

Filed under: RenuNGan, ,

6 Responses

  1. muramasa says:

    mempasrahkan masalah kepada Allah SWT seperti apa konkritnya?

  2. yakzone says:

    Konkritnya…spesifik tergantung masalah yang kita alami Pak. Ada dalam alur hidup masing-masing kita. Masalahnya adalah, menemukannya sesuatu yang sebenarnya sudah digariskan…takdir kita. apa dan bagaimana itu, wallahualam.🙂

  3. widadik says:

    thanks atas tulisannya yang penuh inspirasi, dulu aku waktu awal latihan juga pernah punya masalah yang hampir sama , tapi pesennya “gag usah di peksakke lakoni sak mampumu kowe bakal iso dewe”

    • yakzone says:

      Sama-sama Mas Widadik, menurut saya, apapun..entah latihan, problem kehidupan dll , filosofi ini mungkin bisa meredakan stress dan melatih ketenangan pikiran… Salam ^_^

  4. widadik says:

    mas yakso, kira2 dulu mulai belajar taichi sejak tahun kapan? dan apa memang tiap guru taichi biasanya hanya “memberikan pintunya dan pengembangannya di serahkan pada kita”

    • yakzone says:

      Mas Widadik yth,.. saya mulai bersahabat dgn Taichi sekitar 1992-1993 an, namun sudah mengenalnya sejak 1990an sebelumnya..tentang kebiasaan Guru Taichi ‘memberikan pintunya dan pengembangannya diserahkan pada kita’, itu sebenarnya menunjukkan bahwa setiap pribadi sangat spesifik…mulai cara belajar, tingkat pemahaman dll..Maka tugas seorang guru adalah memberikan konsep dasar dan mengawasi selama ada dalam bimbingannya dan menghindari cedera selama berlatih. Serta terkadang untuk mengetahui apakah si murid sudah memiliki dasar yang cukup untuk proses pengembangan energi selanjutnya yang sesuai dgn levelnya…begitu kira-kira..Selebihnya, tetap hak dan style prerogratif seorang Guru..:). Selamat berlatih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Almanak

June 2009
M T W T F S S
« May   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

TransLatOR !!!

Blog Stats

  • 82,596 hits-pemBaca

Flickr Photos

Photonic Symphony

Kuifmees / Crested Tit / Mésange huppée

6922

More Photos

Traffic Map – Posisi Moe …

Donasi ^_^

CO.CC

CO.CC:Free Domain
%d bloggers like this: